INTEGRITY
PROFESSIONALISM
ENTREPRENEURSHIP
Language

Campus Live

Evolusi Investasi: Dulu Eksklusif, Sekarang Inklusif!

03 August 2025

  1. Akses dan Kemudahan

Dulu, untuk memulai investasi, seseorang harus datang langsung ke kantor sekuritas seperti BEI, Panin Sekuritas, atau BNI Sekuritas. Prosesnya manual, membutuhkan tanda tangan fisik, dan verifikasi identitas langsung di tempat.

Sekarang, semua bisa dilakukan hanya dengan smartphone. Berkat aplikasi seperti Ajaib, Bibit, Bareksa, hingga Stockbit, calon investor cukup mengunggah selfie dan foto e-KTP untuk verifikasi. Pendaftaran akun investasi bisa selesai kurang dari lima menit, di mana saja dan kapan saja.

  1. Modal Investasi yang Terjangkau

Di masa lalu, untuk membeli saham, investor wajib membeli minimal 1 lot (100 lembar saham), dengan nilai yang bisa mencapai jutaan rupiah. Ini membuat investasi saham dulu hanya dapat dijangkau oleh kalangan tertentu.

Kini, investasi jauh lebih inklusif. Lewat platform seperti Bibit dan Pluang, investasi bisa dimulai dengan Rp10.000, bahkan Rp1.000. Kesempatan untuk mulai berinvestasi terbuka bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum tanpa harus menunggu punya modal besar.

  1. Ragam Instrumen Investasi

Pilihan investasi zaman dulu sangat terbatas, hanya meliputi saham-saham blue chip, deposito, emas fisik, atau properti.

Saat ini, berbagai instrumen investasi digital hadir dan mudah diakses:

  • Reksa dana melalui Bibit dan Bareksa,
     

  • ETF melalui Stockbit,
     

  • Aset kripto melalui Pintu dan Indodax,
     

  • P2P lending lewat Modalku dan Amartha,
     

  • Hingga investasi NFT dan properti fraksional melalui Fraksi dan LandX.
     

Investor bebas memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangannya.

  1. Informasi dan Edukasi Investasi

Belajar investasi di masa lalu memerlukan usaha besar: mengikuti seminar berbayar, membaca koran ekonomi, atau belajar langsung dari mentor berpengalaman.

Saat ini, edukasi investasi tersedia secara luas dan gratis di berbagai platform seperti YouTube (ZAP Finance, Felicia Putri, Ryan Filbert), podcast (Makna Talks, Uang Bicara), webinar, hingga konten TikTok (@ngerti.uang, @sahamrakyat). Informasi finansial kini ada di ujung jari.

  1. Transparansi dan Akses Data

Jika dulu harga saham hanya bisa dipantau lewat papan bursa atau koran bisnis dengan update yang tidak real-time, sekarang data harga bisa diakses instan lewat aplikasi seperti RTI Business, IDX Mobile, TradingView, dan Stockbit. Investor juga bisa menikmati grafik interaktif hingga notifikasi perubahan harga secara otomatis.

  1. Komunitas Investor

Diskusi investasi zaman dulu hanya terjadi dalam lingkup kecil, seperti lingkungan kerja atau komunitas tertutup.

Kini, komunitas investasi telah berkembang secara digital lewat Telegram, Discord, hingga Twitter/X. Investor bisa terhubung, berdiskusi, dan bertukar insight secara real-time dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.

  1. Biaya Transaksi yang Lebih Rendah

Di masa lalu, biaya broker mencapai sekitar 0,3% per transaksi, ditambah biaya bulanan dan minimal deposit yang cukup tinggi.

Sekarang, berkat aplikasi seperti Ajaib dan Stockbit, biaya transaksi jauh lebih terjangkau — sekitar 0,1513% untuk beli dan 0,2513% untuk jual. Bahkan, beberapa platform internasional seperti eToro menawarkan transaksi tanpa komisi (zero commission).

  1. Regulasi dan Perlindungan Investor

Regulasi di masa lalu belum terlalu kuat dalam melindungi investor dari penipuan atau penyalahgunaan dana.

Hari ini, platform investasi resmi wajib terdaftar dan diawasi oleh OJK (untuk saham dan reksa dana) serta Bappebti (untuk aset kripto). Ini memberikan keamanan lebih bagi investor, meskipun tetap diperlukan kewaspadaan terhadap skema investasi ilegal yang menjanjikan imbal hasil tidak wajar.

  1. Literasi Keuangan Masyarakat

Tingkat literasi keuangan di Indonesia juga meningkat. Data menunjukkan, indeks literasi keuangan nasional naik dari 38,03% pada 2019 menjadi 49,68% pada 2022. Ini berkat upaya edukasi dari pemerintah, OJK, pelaku industri keuangan, hingga komunitas digital yang aktif mengedukasi masyarakat.